Sandiaga Buka Suara masalah Pembangunan LRT Bali
Jakarta – Menteri Wisata juga Sektor Bisnis Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyatakan rencana pengerjaan kereta rel ringan alias light rail transit atau LRT Bali sudah diserahkan terhadap aliansi konstruksi. Meski demikian, Sandiaga tak mengumumkan siapa sekadar yang digunakan ada di aliansi itu.
“Sudah diberikan terhadap konsorsium. Kami berharap segera diselesaikan, dilanjutkan konstruksinya,” kata Sandiaga ketika ditemui di kantornya pada Senin, 29 Juli 2024.
Sandiaga mengklaim LRT Bali ini akan membantu mengurai kemacetan dalam kawasan padat kendaraan seperti ke Canggu. Dia mengungkapkan LRT ini akan efektif seperti dalam Jakarta.
“Transportasi umum ini membantu. Kalau di dalam Ibukota efektif. Sekarang, MRT telah 120 ribu penumpang per hari. Dulu waktu saya bekerja dalam DKI, target kita cuma 70 ribu, secara umum telah kelihatan,” kata Sandiaga.
Deputi Sektor Sarana lalu Prasarana Kementerian PPN atau Bappenas Ervan Maksum sebelumnya mengungkapkan rencana pengembangan kereta rel ringan alias light rail transit atau LRT Bali. Hal itu dijelaskan di acara diskusi bertajuk Strategi Green Financing Industri Transportasi untuk Daya Saing Perkeretaapian Berkeadilan yang dimaksud diselenggarakan virtual.
“Di Bali ini untuk sampai ke bandara butuh waktu bisa jadi 2-3 jam kemudian permasalahan waktu itu berubah menjadi mahal meskipun Bali itu kecil. Solusinya salah satunya menggunakan kereta untuk mempercepat, kami mengintroduksi LRT,” ujar ia disitir dari akun YouTube Pusat Studi Transportasi dan juga Logistik Universitas Gadjah Mada bernama Pustralugm pada Senin, 25 September 2023.
Menurut Ervan, Bali terkenal dengan pariwisata yang mana terbagi beberapa klaster, ada yang mana ke Jimbaran, Seminyak, Kuta, Nusa Dua, juga Sanur. Akses dari juga menuju ke bandara berubah jadi salah satu masalah, kata dia, padahal penumpang pesawat yang datang ke Bandara Ngurah Rai itu ada sekitar 58 ribu sehari, sehingga penting dibangun LRT Bali.
Jika pun nanti dibangun, di dalam Bali juga memiliki kondisi pada mana bangunan bukan boleh lebih lanjut tinggi dari pohon kelapa. Sehingga satu-satunya jalan adalah LRT Bali harus dibangun ke bawah tanah.
“Ke bawah itu mampu 3 kali biaya daripada kalau dibangun di atas. Kami total hanya misalnya dari Bandara Ngurah Rai itu Simbol Rupiah 5 triliun, dikarenakan lewat bawah mahal sekali padahal cuma sekitar 4,5-4,9 kilometer,” kata Ervan.
Artikel ini disadur dari Sandiaga Buka Suara soal Pembangunan LRT Bali





