Kisah Kiyoshi Tanabe: Petinju Negeri Sakura Pertama Peraih Medali Olimpiade juga Tragedi Kebutaan

JAKARTA – Kiyoshi Tanabe dikenal sebagai “petinju yang penuh tragedi” oleh sebab itu terpaksa pensiun tepat pada waktu baru sekadar meraih kemenangan besar. Bahkan ia mempunyai prospek untuk menjadi juara multi-divisi.
Tanabe lahir pada Tokyo 10 Oktober 1940 kemudian muncul pada kancah amatir Negeri Sakura pada akhir tahun 1950-an dengan mengungguli peringkat Sekolah Menengah Atas Nasional (the National High Schools) dan juga gelar kejuaraan amatir nasional (the national amateur). Dia 2 kali menang melawan Takayo Sakurai yang digunakan kemudian mengungguli medali emas pada kelas bantam pada Olimpiade 1964.
Dikutip dari laman ringnews24, Mulai Pekan (12/8/2024), Tanabe berkompetisi pada Olimpiade 1960 di area Roma. Tanabe mengalahkan peraih medali perak tahun 1956 yang tersebut sangat berpengalaman, Mircea Dobrescu dari Rumania, tetapi ia kalah dari Sergey Sivko dari Rusia pada semifinal.
Tanabe adalah petinju Negeri Matahari Terbit pertama yang dimaksud mengungguli medali Olimpiade dalam cabang tinju. Dia meraih kemenangan medali emas di tempat Asian Games 1962 pada Indonesia. Dia menorehkan rekor 115-5 ketika memutuskan untuk menjadi petinju profesional.
Tanabe menjalani pertarungan berbayar pertamanya pada bulan Desember 1963 kemudian pada tahun 1964 bertarung lebih besar dari satu puluh ronde semata-mata di pertandingan keempatnya. Pada tahun 1964 beliau juga mengalahkan petinju Filipina peringkat dunia Leo Zulueta juga Jet Parker.
Tanabe kalah 5 inci tinggi badannya dari Parker 15-1-1 tetapi menang dengan langkah mutlak. Pada bulan Januari 1965 ia mengalahkan juara bertahan Jepun Akashi Namekawa pada pertarungan non-gelar kemudian pada bulan Agustus mengalahkan petarung peringkat lainnya Ric Magramo.
Tanabe menghadapi Namekawa untuk bertarung memperebutkan peringkat Jepun pada bulan Oktober 1965 lalu menang lalu mengalahkan Namekawa di dua ronde di mempertahankan penghargaan pada bulan Maret 1966.
Rentetan kemenangannya berakhir ketika ia bertarung seri dengan Yuzo Narumi di mempertahankan peringkat lainnya. Narumi semata-mata kalah satu kali dari dua puluh satu pertarungannya, tetapi hasil seri yang disebutkan menyebabkan keraguan apakah Tanabe siap menghadapi petarung terbaik pada divisi tersebut.
Keraguan yang dimaksud sirna pada bulan Februari 1967 ketika Tanabe menghadapi juara WBA Horacio Accavallo pada pertarungan non-gelar. Pelatih baru, Eddie Townsend, mengambil alih serta meskipun hanya sekali miliki waktu 20 hari untuk melatih Tanabe.






