Lifestyle

5 Tantangan pada Kulit yang digunakan Tak Disadari pada waktu Anda Terbang dengan Pesawat

JAKARTA – Pernahkah terpikir, apa yang terjadi pada lapisan kulit pada waktu Anda terbang kemudian berada di dalam ketinggian 36.000 kaki? Kalau fisik Anda merasa nyaman-nyaman saja, rupanya hal yang dimaksud serupa tak terjadi pada kulit.

Ketika Anda terbang menumpang pesawat, lapisan kulit mulai mengalami “malapetaka”. Kondisi kelembaban udara yang turun, kering, juga berubah-ubah di tempat di kabin pesawat dapat menyebabkan lapisan desmis epidermis mengering, meningkatkan produksi minyak, dan juga memperparah jerawat yang digunakan kemungkinan besar sedang “bersarang” dalam kulit.

Tapi, Anda jangan terlalu khawatir lantaran tiada ada permasalahan yang dimaksud tak bisa jadi diatasi. Untuk mengantisipasinya, sebelum terbang tentu Anda harus aware juga melakukan ritual perawatan agar lapisan kulit tidak ada menjadi rusak.

Beberapa anjuran pernah dikemukakan oleh ahli dermatologi terkenal dunia. Berikut rangkumannya untuk Anda.

1. Kekeringan

Menurut dermatologist Rina Allawh dari Montgomery Dermatology, Amerika Serikat, dengan kondisi udara yang mana dingin juga kering di area pada pesawat, epidermis kita akan mengalami kekeringan kemudian “haus” hidrasi. Dalam keadaan normal, lapisan kulit kita akan terasa nyaman pada waktu kelembaban udara berkisar antara 40%-70%. Namun, yang tersebut terjadi pada kabin pesawat belaka sekitar 20%. Jadi, mampu dibayangkan betapa kondisi yang dimaksud dapat menyebabkan dermis semakin kering.

Untuk mengatasinya, selain minum air putih, aplikasikan moisturizer sebelum Anda naik ke pesawat. Skincare yang disebutkan tak hanya saja akan menimbulkan lapisan kulit tetap saja moist, tapi juga menekan kemungkinan terjadinya iritasi.

Carilah komoditas yang mengandung asam hyaluronic. Asam hyaluronic ini merupakan molekul gula yang digunakan ditemukan secara alami pada epidermis lalu mampu mengikat air. Sebaliknya, hindari pemakaian face mist di tempat pada kabin pesawat akibat air akan menguap dari lapisan kulit kemudian menciptakan dermis yang tersebut kering semakin parah.

2. Terkena Matahari

Menurut dermatologist dari Dove, Mona Gohara, pada waktu berada di dalam menghadapi awan itu artinya Anda sedang dekat dengan matahari. Padahal, jendela serta badan pesawat tiada tahan sinar UV sehingga tak ada pemeliharaan dari paparan cahaya matahari. Agar sinar UV tidak ada sampai merusak kulit, aplikasikan sunscreen yang mengandung high-SPF sebelum lalu selama penerbangan .

3. Berminyak

Ketika epidermis mengalami kekeringan, otomatis produksi minyak akan segera meningkat. Dokter kecantikan dari Nexus Clinic, Jasmine Ruth Yuvarani, mengingatkan bahwa produksi minyak yang dimaksud meningkat ekstrem dapat menyebabkan timbulnya jerawat. Untuk itu, Anda disarankan setiap saat menghadirkan moisturizer bebas minyak berukuran kecil di tempat di tas serta oleskan setiap kali Anda merasa dermis mengering.

4. Timbul Jerawat

Aktivitas sebelum terbang seperti perjalanan ke bandara, mengalami macet, ataupun lelah usai mengepak barang bawaan bisa saja menyebabkan tubuh merasa letih dan juga stres. Kondisi yang disebutkan dapat memicu peningkatan hormon kortisol, yang kemudian bermuara pada munculnya jerawat.

Dermatologist Mona Gohara menyarankan agar begitu Anda naik lalu duduk di tempat pesawat, sisihkan waktu sebentar hanya untuk rileks, lalu tarik napas yang mana dalam. Akan tambahan baik bila Anda menggunakan minyak aromaterapi pada waktu ingin terbang. Oleskan minyak yang disebutkan di dalam belakang kuping lalu ambil napas. Kondisi rileks serta nyaman dapat menekan hormon kortisol, sehingga timbulnya jerawat dapat dicegah.

Selain itu, menurut dermatologist Rina Allawh, menyenderkan wajah pada head rest pesawat dapat mengkontaminasi lapisan kulit dengan bakteri sehingga memicu timbulnya jerawat. Untuk itu, Anda disarankan agar tak menyandarkan wajah pada permukaan kotor tersebut. Untuk jaga-jaga, bawalah setiap saat tisu basah di tempat di tas agar Anda sanggup membersihkan dermis sesegera kemungkinan besar kala dirasa kotor.

5. Muncul Kantung Mata

Menurut Jasmine Ruth Yuvarani, lama duduk di dalam di pesawat dapat menghambat aliran darah yang digunakan pada akhirnya berdampak pada pembentukan kantung mata. Anda tentu tak mau meninggalkan pesawat di kondisi mata berkantung juga menghitam, bukan? Untuk itu, Anda disarankan untuk sesekali bangun dari kursi, lalu jalan-jalan di area sekitar area tempat duduk.

Related Articles

Back to top button